Menyelami Tangisan Diyan di Balik Kostum Badut Melawan Pandemi

Ilustrasi Diyan (Tunawisma) Kota Bandung oleh perisaiupdate.com

PERISAI UP Di tengah pandemi Covid-19, Diyan (25) tetap mengamen dengan kostum badut di daerah Jl. Tamblong, Bandung demi menafkahi istri dan anak-anaknya yang berada di Garut. 

Awalnya, Diyan menjadikan mengamen dengan kostum badut sebagai pekerjaan sampingan. Namun, semenjak pandemi Covid-19 Diyan menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan utama karena Ia tidak kunjung memiliki pekerjaan tetap seperti dulu lagi. 

Pria asal Garut ini harus berjerih payah di tengah pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Bandung, demi menghidupi istri dan anaknya di Garut. 

Pekerjaannya sebagai pengamen dengan kostum badut, ternyata tidak bisa membuatnya hidup dengan layak di tengah pandemi. Label tunawisma akhirnya melekat setelah kehilangan rumah kontrakan yang tidak sanggup Diyan bayar. 

Potret Diyan mengenakan kostum badut saat bekerja mengais rezeki di kawasan Jl. Tamblong, Bandung

Kostum badut yang disewa dari pemiliknya cukup mahal hanya untuk menghidupi dirinya di Bandung. Penghasilan yang tidak menentu dan sewa kostum sebesar Rp50.000,00 per hari, membuatnya keberatan dan harus menombok esokan harinya. 

“Biaya sewa baju badut sehari aja Rp50.000,00, saya sering nombok biaya sewanya,” ujar Diyan. 

Walaupun hidup sedang di ambang kesulitan sebagai tunawisma di tengah pandemi Covid-19, Diyan sama sekali tidak menerima bantuan dari pemerintah Bandung karena KTP yang Ia miliki berasal dari pemerintah Garut.  

Bantuan Sosial (Bansos) dari Kementerian Sosial Republik Indonesia yang digadang akan didapatkan oleh orang tidak mampu, ternyata tidak dirasakan oleh Diyan. KTP yang Ia miliki dan jauh dari kampung halaman, membuat Diyan bergantung hanya dari penghasilannya saja.

Melihat lebih jauh, Diyan yang berasal dari Garut dan memiliki KTP Garut tetap tidak menerima bantuan sosial dari pemerintah Garut. Ia sudah mencoba berkali-kali mengajukan bantuan kepada RT setempat hingga ke kecamatan, namun hasilnya nihil. Diyan tetap tidak mendapatkan Bansos.

“Saya sudah berkali-kali mencoba mengajukan ke RT, terus ke kecamatan. Tapi, tetap tidak diterima,” ujar Diyan.

Diyan berharap mendapat bantuan uang tunai demi penghidupan anak dan istrinya di Garut.

“Saya butuh bantuan uang tunai karena bisa dipakai sesuai dengan kebutuhan. Saya gak ngontrak, jadi nanti uangnya bisa saya kasih ke anak dan istri di Garut,” kata Diyan.

Diyan menyebutkan bahwa pemerintah Garut tidak mendata dan enggan melakukan survei lapangan terhadap warga yang dirasa membutuhkan bantuan akibat imbas Covid-19.

“Belum ada yang cek, RT juga tidak ada yang mengecek,” tutup Diyan.

Hingga saat ini, Diyan masih tidak mendapatkan bantuan apapun, baik itu dari pemerintah maupun pihak lain.

Nestapa Tunawisma Saat Pandemi 

Semenjak merebaknya pandemi Covid-19, sejumlah masyarakat merasakan dampak yang sangat signifikan, khususnya tunawisma di Kota Bandung. Tunawisma ini dikatakan sulit untuk bertahan hidup karena terbebani oleh aspek finansial yang tidak dapat terpenuhi. 

Segelintir tunawisma di Kecamatan Sumur, Bandung, mengaku kesulitan untuk bertahan hidup dengan biaya yang sangat pas-pasan. Beratnya keadaan yang mereka hadapi dalam hal memenuhi kehidupan sehari-hari seperti kebutuhan makan hingga biaya bertahan hidup lainya. Mereka menyampaikan keluh-kesah yang dialami terkait tidak mendapatkan dana bantuan terdampak Covid-19. Jika dilihat, tunawisma merupakan masyarakat yang sangat memerlukan dana untuk bertahan hidup di saat situasi sulit sekarang ini. 

Rizky (23) warga asli Majalaya yang menjadi tunawisma di Kota Bandung. Saat dijumpai, Rizky menetap di tempat yang tidak layak, hanya beratap plastik kresek untuk melindungi dirinya. Semenjak empat bulan belakangan, Rizky tinggal di tempat yang jauh dari kata layak tersebut. 

Dahulu Rizky pernah menyewa kontrakan di daerah Ciroyom dengan harga sewa Rp400.000,00/bulan. Namun, Rizky tidak sanggup lagi membayar sewa kontrakan semenjak dirinya mulai sakit-sakitan dan penghasilan yang didapatkan pun tidak menentu semenjak pandemi Covid-19 ini.

Sama seperti Diyan, Rizky juga tidak menerima Bansos karena KTP yang Ia miliki hilang dan Ia tidak mampu untuk mengurus kembali karena penyakit yang dideritanya. 

‘’Sejauh ini gak pernah nerima sama sekali bantuan dari pemerintah, kecuali bantuan dari pengendara motor,’’ ungkap Rizky. 

Potret Rizky yang tinggal di pinggir jalan dengan beratapan plastik

Serupa dengan Rizky, Dodih (70) seorang tunawisma yang berlalu lalang di sekitar Jl. Tamblong juga merasakan hal yang sama terkait dana Bansos yang tak kunjung datang. 

Dahulu, Ia merupakan seorang pemulung, tetapi semenjak dirinya tidak kuat lagi menopang beban hasil memulung, akhirnya Dodih memilih untuk menjadi pengemis di usia senja. Dodih mengaku tidak pernah menerima bantuan dalam bentuk apapun dari pemerintah. Sejauh ini Dodih hanya menerima bantuan dari Rumah Amal Salman berupa beras beras dan sembako menjelang Idul Fitri tahun lalu.

Kisah berbeda dialami oleh Lilis (50), warga asal Garut yang tinggal di Bandung selama 20 tahun, menceritakan kisah pilunya terkait pemberian dana Bansos yang tak kunjung didapatkan. Lilis mengungkapkan bahwa dirinya tidak menerima bantuan Covid-19 dari pemerintah Bandung dikarenakan KTP miliknya masih berkependudukan Garut.  

Selain itu, Lilis menceritakan keluh kesahnya terkait kesulitan yang dialami dirinya beserta keluarga. Berbagai upaya dihadapi untuk berjuang di masa sulit ini, khususnya biaya kontrakan di kawasan Jl. Suniaraja, Kecamatan Sumur, Bandung. Lilis sudah menunggak biaya kontrakan selama empat bulan, dengan biaya perbulan sebesar  Rp400.000,00.

Walaupun Lilis dan keluarga merupakan masyarakat asli Garut, akan tetapi Ia tidak mendapatkan bantuan terdampak Covid-19, baik itu dari Pemerintah Kota Bandung maupun dari Pemerintah Garut. 

‘’Saya sudah mengajukan bantuan pada Covid ini, tapi sama saja gak dapat apa-apa. Ya, sudahlah tidak apa-apa, gimana pun saya cuma bisa bersyukur saja’’, ungkap Lilis.

Pemerintah hanya memfokuskan bantuan kepada masyarakat yang memiliki KTP asli Bandung. Dapat dilihat bahwa tidak meratanya pengalokasian dana bantuan terdampak Covid-19 merupakan sebuah tanda tanya besar. Padahal, seluruh aspek masyarakat kelas bawah di Indonesia pun turut merasakan betapa menyiksanya dampak Covid-19 ini, khususnya bagi kaum tunawisma di Kota Bandung. Dana Bansos pun tak kunjung datang, makin sulit bagi tunawisma ini untuk mendapatkan bantuan demi menunjang kehidupan mereka.

Kata Mereka: Bansos Sembako atau Dana, ‘Apapun Itu Kami Terima’

Dibalik polemik masyarakat yang sempat kisruh meributkan jenis Bansos baik berupa sembako atau dana (uang tuani), tunawisma Kota Bandung penuh harap menantikan Bansos dari pemerintah. Bagi mereka, Bansos sangat diperlukan sebagai pertolongan dan nyawa utama mereka untuk menyambung kehidupan. Sulit bagi mereka untuk berjuang melawan kesulitan hidup yang mereka dijalani. Tetapi, kaum tunawisma Kota Bandung ini tidak meributkan problema terkait jenis Bansos yang diberikan pemerintah kepada mereka. 

Potret Dodih, tunawisma yang menantikan bantuan

‘’Kami butuh bantuan jenis apa aja yang penting ada. Dapat sembako diterima, dapat uang diterima. Alhamdulillah.’’ ujar Dodih (70) salah satu tunawisma. 

Bagi mereka, uang tunai dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Bagi Diyan, jika Ia mendapat bantuan berupa uang tunai, maka akan diberikan kepada anak dan istri di Garut. 

“Saya butuh bantuan uang tunai karena bisa dipakai sesuai dengan kebutuhan. Saya gak ngontrak, jadi nanti uangnya bisa saya kasih ke anak dan istri di Garut,” ujar Diyan.

Kaum tunawisma Kota Bandung tidak menuntut akan jenis bantuan yang disalurkan.  Akan tetapi, hanya saja sampai saat ini mereka menunggu Bansos agar segera disalurkan secepatnya.

Alur Dana Bansos Kemensos

Bantuan Sosial (Bansos) akan didapatkan oleh warga Indonesia sesuai dengan regulasi yang ditetapkan secara resmi oleh pemerintah. Peraturan ini dilakukan secara serentak oleh setiap wilayah di Indonesia. Menurut Subiarti, Seksi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Sumur, Bandung mengatakan bahwa total bantuan yang turun selama pandemi Covid-19 terbagi menjadi tiga yaitu, bantuan provinsi, Kementerian Sosial (Kemensos), dan bantuan tingkat kota. Alur bantuan yang diberikan masyarakat yaitu sebagai berikut:

1. Bantuan Provinsi

Pihak Provinsi Bandung memberikan bantuan berupa sembako dan dana kepada masyarakat wilayah Bandung. Pembagian sembako yang diberikan senilai Rp. 350.000,00 dan uang tunai senilai Rp.150.000,00 diberikan. 

Program bantuan Provinsi ini disalurkan kepada masyarakat Bandung yang melalui proses pendataan DTKS (Dana Terpadu Kesejahteraan Sosial) maupun mendaftarkan diri sebagai pihak yang terdampak Covid-19. Bantuan ini sudah disalurkan sebanyak tiga kali kepada masyarakat sesuai dengan proses pendataan yang sudah dilakukan. 

2.  Bantuan Kementerian Sosial Indonesia 

Kemensos memberikan bantuan berupa sembako dan uang tunai senilai Rp200.000,00 yang dialokasikan khusus untuk PKH. Sebelum adanya Covid-19 pun bantuan ini sudah rutin direalisasikan. Namun saat munculnya Covid-19, bantuan ini terbagi menjadi dua jenis yaitu Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang menyasar masyarakat yang tidak mampu seperti lansia dan ibu yang sedang mengandung. 

Pengalokasian jumlah penerima BPNT di Kecamatan Sumur, Bandung sebanyak 540 orang sedangkan PKH sebanyak 300 orang. Akan tetapi, program ini dilakukan secara berkala sesuai dengan tenggang waktu setiap bulannya. Jika masyarakat tidak mendapatkan pencairan dana di bulan ini, maka bulan selanjutnya mereka akan menerima dana dua kali lipat.

3. Bantuan tingkat kota

Bantuan ini diberikan oleh pihak kecamatan setempat dari Pemkot Bandung. Pemerintah kecamatan hanya memprioritaskan saluran bantuan kepada masyarakat yang memiliki KTP setempat dan merupakan warga asal Bandung. Seluruh prasyarat penerima bantuan Bansos ini sesuai dengan laporan dari pihak pemerintah kota untuk dialokasikan kepada masyarakat terdampak Covid-19. 

Pihak kecamatan mengaku kalau mereka memang hanya berkenan memberikan bantuan kepada warga yang memiliki KTP setempat. Hal ini sesuai dengan prasyarat penerima yang kemudian menjadi laporan dari pihak kecamatan ke atas. 

Subiarti selaku Seksi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Sumur, Bandung memaparkan bahwa pembagian bantuan ini dibantu oleh Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Sedangkan bantuan berupa uang tunai bekerja sama dengan Himbara dan Bank BNI. Ia menambahkan, pihak swasta pun turut andil untuk memberikan bantuan kepada masyarakat, beberapa diantaranya yaitu YBM PLN dan Rumah Amal Salman. Tetapi, pengalokasian dan prioritas bantuan tetap diutamakan kepada warga setempat yang memiliki KTP.

Dinas Sosial, Tunawisma, dan Bansos

Pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah tunawisma di Kota Bandung. Tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki KTP Bandung, menjadikan para tunawisma kesusahan mendapatkan bantuan dari pemerintah. 

Ade, selaku Koordinator Lapangan Dinas Sosial Kota Bandung mengaku, Dinas Sosial Kota Bandung tidak memiliki program khusus selama pandemi Covid-19. Menurutnya bantuan seperti sembako maupun uang tunai bukanlah ranah dinas sosial, melainkan ranah kecamatan dan wilayah setempat. 

“Kalau bantuan seperti itu kan memang sudah ada DTKS-nya yang akan diberikan kepada setiap wilayah baik kecamatan, kelurahan, ataupun RT/RW. Memang syarat utamanya adalah KTP. Selama tunawisma tersebut memiliki KTP Kota Bandung maka ia berhak menerima bantuan. Kalau KTP nya luar Kota Bandung, berarti bantuan disalurkan sesuai dengan asal daerahnya masing-masing, “ jelas Ade.

Selama Covid-19 dinas sosial sendiri tidak dapat melaksanakan program rutin untuk membawa para tunawisma ke tempat penampungan dan pelatihan dikarenakan jumlah rumah tampung yang harus diminimalisir untuk menghindari resiko terpapar Covid. Saat ini Dinas Sosial Kota Bandung hanya melakukan tindak lanjut kepada tunawisma ataupun ODGJ jika ada masyarakat Kota Bandung yang melapor karena meresahkan. 

Program Bantuan Sosial (Bansos) memang dirancang khusus oleh pemerintah untuk dialokasikan kepada masyarakat perekonomiannya terdampak akibat pandemi Covid-19. Tetapi, nyatanya masih ada masyarakat Kota Bandung seperti kaum tunawisma yang tak kunjung mendapatkan Bansos dari pemerintah. 

Bansos tak kunjung datang, tunawisma pun merana. Mereka tak jemu-jemu menantikan Bansos yang diberikan oleh pemerintah demi bertahan hidup di tengah pandemi. 

Infografis by Perisai UP

(MR, CMS, EM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: