Description: E:\0b9174e5-6f3f-4a86-b6e0-568fac068041_169.jpeg
Sumber Gambar : cnnindonesia.com

Perisai UP, Jakarta –  Kasus penembakan di Mal Terminal 21-Thailand, Jakrapanth Thomma, berlangsung dari sejak Sabtu, 8 Februari 2020 hingga berakhir dengan tewasnya ia oleh satuan militer Second Army Region, Minggu, 9 Februari 2020.

Peristiwa ini di awali oleh Thomma yang memulai aksinya dengan melepaskan tembakan di rumahnya pada pukul 15.00 waktu setempat. Aksinya dilancarkan Thomma di kamp militer Suartham Phitak dengan menembak mati atasan militer, Kolobel Anantharot Krasae. Kemudian setelah merampas sejumlah senjata hingga jip Humvee, Thomma melanjutkan aksi di Mal Terminal 21. Di sana, Thomma menembak mati 26 orang, melukai 52 orang, dengan di 8 orang antaranya sempat disandera. Kepolisian dan militer setempat mengisolir lokasi dan menghabiskan 17 jam hingga akhirnya Thomma dapat ditembak mati di lokasi pada pukul 09.00 (9/2). Motif pembunuhan massal ini diduga sebagai bentuk balas dendam karena permasalahan Thomma yang notabene militer penembak jitu.

“Pada umumnya, semua personil militer pasti bisa menggunakan senjata api dengan baik. Tapi, dia (Thomma) jelas memiliki lebih banyak skill,” ujar Tantravanich dikutip dari CNN, Ahad, 9 Februari 2020.

(AE)

Sumber :

cnnindonesia.com

dunia.tempo.co