Perisai UP, Jakarta – Sampah menjadi salah satu permasalahan utama terkait kestabilan lingkungan dalam suatu Negara, khususnya sampah plastik. Sampah plastik  termasuk jenis sampah yang sangat sulit untuk terurai. Di dalam tanah sampah plastik membutuhkan waktu 500 – 1000 tahun lamanya untuk bisa terurai habis. Benjamin Bongardt, pakar sampah dari organisasi Ikatan Perlindungan Alam Jerman (NABU), menuturkan bahwa banyak plastik di laut dan disungai yang hanya bisa terurai secara sempurna dalam waktu 450 tahun.

Dilansir dari CNN Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai bahwa permasalahan sampah ini juga terjadi di Tanah Air kita yang sudah semakin meresahkan, bahkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyebutkan, bahwa Indonesia adalah negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut. Salah satu sampah berbahan plastik yang mencemari lingkungan Indonesia adalah sedotan plastik.

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya sedotan plastik adalah benda yang sering digunakan dalam aktivitas sehari – hari sebagai alat bantu minum kita. Di Indonesia penggunaan sedotan plastik sekali pakai termasuk yang tertinggi di dunia. Dari pemakaian sedotan plastik ini, menimbulkan dampak yang sangat berbahaya dan merugikan. Terlebih jika dibuang ke laut bebas, ini berbahaya untuk ekosistem disana.

Di tengah keprihatinan permasalahan terkait limbah plastik yang semakin mengancam kesenjangan bumi dan perairan global ini. Terbitlah sebuah gagasan yang mengajak kita untuk melakukan gerakan perubahan terhadap pengurangan limbah plastik khususnya untuk sedotan. Dengan mengganti bahan sedotan tersebut dari plastik menjadi stainless steel.

Menurut Joland Maria Marischa Panjaitan, Mahasiswa Teknik Geofisika Universitas Pertamina menganggap gagasan tersebut sangat bagus dan memiliki tujuan yang jelas. “Saya sangat setuju, karena menggunakan sedotan plastik untuk membuat lingkungan tercemar itu besar. Plastik kan juga lama untuk terurai, apalagi plastik juga tidak baik untuk kesehatan kita jika digunakan berulang. Jadi keuntungan untuk kita yaitu dari segi kesehatan dan untuk Negara juga dapat untuk mengurangi sampah berlebih”, ujarnya.

Berbeda dengan Joland Maria, Ibu Novi selaku pedagang di kantin Universitas Pertamina, memiliki pandangan lain. “Sebenarnya untuk faktor ekonomi itu lebih memaksakan saya, karena sudah jelas harga sedotan stainless steel pasti lebih mahal dari sedotan plastik. Saya takut akan berakibat kurang baik terhadap perekonomian penjualan saya” ujar Ibu Novi. Meskipun demikian ia akan menyediakan sedotan ini apabila harganya tidak begitu mahal. (ZAT)