Perisai UP, Jakarta— Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Pertamina menggelar acara UPSTRACT 2.0 dengan tema Our Trash Our Responsibility pada Sabtu, 26 Januari 2019 di GOR Universitas Pertamina. Pada UPSTRACT yang kedua ini, panitia pelaksana mengangkat masalah besar yang juga menjadi masalah bersama, yaitu tentang pengelolaan sampah di lingkungan kampus.

Penandatangan petisi

Acara ini berawal dari sikap ketidakpedulian mahasiswa terhadap sampah di lingkungannya, khususnya sampah pribadi. Berangkat dari masalah ini, HMTL ingin menumbuhkan budaya pengelolaan sampah dengan melibatkan mahasiswa kampus. Tujuan acara ini untuk mensosialisasikan kepada warga kampus akan pentingnya mengelola sampah dengan baik demi terciptanya lingkungan kampus yang bersih dan nyaman.

“Acara ini kami buat untuk mensosialisasikan warga kampus akan perlunya pengelolaan sampah, dan kita sedang mengalami darurat lingkungan terutama di kantin karena masih banyak mahasiswa yang membiarkan sampahnya. Harapan saya setelah acara ini mahasiswa bisa mengaplikasikan karena kita sudah deklarasi dengan semua Ketua Himpunan dan berkomitmen bersama. Untuk setelahnya kami dari Prodi Teknik Lingkungan akan membuat tanda-tanda di kantin terutama tentang pemilahan sampah juga tentang rokok sebagai bentuk kontinuitas dari acara ini”, ujar Mohammad Dandy Widiantara (Teknik Lingkungan ‘16), selaku Ketua Panitia.

15 Prodi Universitas Pertamina Sepakat Kurangi Sampah

Bertempat di GOR Pertamina Simprug, acara ini dihadiri oleh Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novarizal Tahar yang akrab dipanggil Pak Kwi, dan Koordinator Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Ricky.

Pada acara Talkshow, Pak Kwi mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk peduli akan sampah, dengan cara untuk tidak menggunakan bahan yang sekali pakai buang. Pak Kwi juga menghimbau agar tempat sampah harus jelas dan mudah dipahami. Beliau juga sangat optimis jika seluruh masyarakat sudah timbul kesadaran akan sampah Indonesia dapat menjadi percontohan dunia dalam pengelolaan sampah.

“Kemarin di forum-forum dunia Indonesia sudah menawarkan sebagai pemimpin untuk mengatasi masalah sampah terutama sampah plastik, kita sudah punya langkah-langkah yang baik untuk itu termasuk peraturan yang mendukung dan kita punya kerjasama yang baik dengan negara ASEAN, perbincangan ini terus berlanjut di forum dunia maupun ASEAN dan Indonesia terlibat di dalamnya” ujarnya.

Pembicara kedua seorang anak muda dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Ricky. Ricky mengungkapkan kitalah yang menentukan apakah sampah di lingkungan sekitar kita ingin terkelola dengan baik atau tidak. Ia pun berpesan agar mahasiswa lebih sadar dan tidak egois dengan sampahnya sendiri.

“Persoalan sampah memang persoalan jangka panjang, jadi kita baru merasakan dampak sampah sekarang bukan karena perilaku kita sekarang tapi perilaku pendahulu kita, hari ini kita cuma punya waktu sampai 2030 yang katanya sampai dimana titik panas bumi ini sudah tidak bisa kembali lagi. Jika kita tidak berubah kita akan dapatkan bencana global yang lebih parah lagi yaitu pemanasan global sampai 4 derajat. Kita tidak merasakan sekarang yang akan merasakan adalah anak cucu kita, sekarang tanyalah diri sendiri jika kita tidak mau berubah hari ini, apakah kita mau menanggung kerugian yang akan dirasakan anak cucu kita?” jelas Ricky.

Seorang mahasiswa Teknik Lingkungan ‘18, Annisa Thahirah Aqilah merasa senang dan termotivasi karena acara talkshow ini. “Sangat bagus, harus dijadikan motivasi untuk mahasiswa agar memiliki kesadaran sendiri tentang pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab si petugas, tetapi tanggung jawab diri sendiri juga”, ungkapnya.

Penampilan Adera di acara UPSTRACT 2.0

Pada siang harinya, kegiatan tersebut dimeriahkan pula oleh musisi tanah air, Glass Band dan Adera. Pada kesempatan tersebut, Glass Band berharap semua mahasiswa dan masyarakat bisa saling mengingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya. “Kesadaran untuk buang sampah kembali pada diri sendiri hanya  efeknya kan ke lingkungan seperti banjir. Jadi kita harus saling mengingatkan untuk menjaga lingkungan.” Tak hanya Glass Band, Adera sendiri merasa risih kepada orang yang membuang sampah sembarangan di jalan. (ZA/V/AM)