Perisai UP, Jakarta —-  Kantin Universitas Pertamina kembali menjadi perbincangan mahasiswa. Setelah renovasi kantin selesai, isu digitalisasi kantin dengan sistem pembayaran cashless menjadi topik hangat saat ini. Digitalisasi sistem pembayaran adalah perubahan dari pembayaran tunai menjadi non tunai (cashless). Hal ini menuai respon yang beragam dari berbagai pihak, salah satunya mahasiswa.

Haikal (17), Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi, setuju dengan wacana ini. Menurutnya, dampak positif yang akan terasa adalah kecepatan dalam pembayaran, sehingga memudahkan para penjual maupun pembeli. Haikal menambahkan bahwa perlu sosialisasi terkait hal ini agar para pembeli dapat beradaptasi.

Hal yang sama diutarakan oleh Moh. Fadil Ruhiyat (20), Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi. Fadil berpendapat wacana ini menarik karena praktis. Namun dia meminta untuk diadakan sosialisasi agar mahasiswa mengetahui informasi tersebut secara formal dari pihak kampus.

“menurut saya ide yang baik akan menimbulkan dampak yang baik pula, dengan syarat metode yang digunakan juga benar. Kalau tidak,hasilnya tidak akan jadi solusi dari permasalahan tertentu,” tutupnya.

Pedagang Keberatan

Menurut Sri (38) salah satu pedagang kantin, diberlakukannya sistem ini akan mendapatkan dampak positif. Salah satunya adalah para pedagang akan lebih mudah dalam melakukan transaksi. Dengan kata lain, waktu yang digunakan akan efisien saat bertransaksi kedepannya. Sedangkan dampak negatifnya, pedagang lebih sulit menentukan harga.

Hal senada dilontarkan oleh Arni (38). Arni tidak setuju dengan kebijakan ini karena memberatkan pedagang.

“sistem ini benar – benar dikontrol oleh pengelola dan juga akan ada potongan omset. Kalau seperti itu harga makanan naik. Imbasnya apa? Mahasiswa rugi,” ujar Arni.

Menurutnya, hal negatif  lainnya adalah sistem penarikan per minggu oleh pengelola. Jadi para pedagang akan mendapat keuntungan setelah 7 hari penjualan sehingga hal ini memberatkan dari sisi modal pedagang.

“sistem penarikannya per minggu, jadi pedagang harus menyiapkan modal untuk jualan 7 hari kedepan. Belum lagi jika orang (pihak pengelola) tidak masuk, susah lagi,” keluh ibu yang kerap disapa ‘Mami’ ini.

Meskipun demikian, Arni juga merasakan dampak positif jika kebijakan ini diterapkan. Dia dapat menentukan harga tanggung tanpa memikirkan kembalian. Namun Arni belum dapat memprediksi apakah sistem ini efektif atau tidak karena belum terjadi.

Baik Sri maupun Arni, keduanya kurang setuju akan kebijakan ini. Menurut keduanya, pedagang hanya dapat mengikuti sistem yang dibuat oleh Pertamina Foundation sebagai pengelola kantin. Pemberian informasi tentang digitalisasi kantin baru disosialisasikan kepada pegawai kantin. Sehingga, mahasiswa UP belum mengetahui berita tersebut secara formal.

Konfirmasi Pihak Pengelola

Aryo, staf Pertamina Foundation (PF) yang mengelola sarana kantin, membenarkan wacana tersebut. Ketika ditemui di kantornya, Aryo menuturkan tiga faktor utama keuntungan digitalisasi kantin. Pertama, keuntungan yang diterima oleh semua pihak yang terlibat. Penyewa kantin dan pembeli tidak perlu repot mengeluarkan uang tunai ketika bertransaksi. Cara penggunaannya sama seperti Go-Pay, menggunakan QR Code. PF pun menerima uang sewa tepat waktu. Hal ini dilakukan karena ada penjual yang suka telat membayar uang sewa. Kedua, tidak ada resiko menyimpan uang cash. Cash ada resiko karena uangnya dibawa kemana-mana. Kalau cashless kan aman. Tidak usah simpan dan jaga, uang sudah ada di rekening,” jelasnya.

Terakhir, Aryo menyebutkan pada awal tahun 2018, ada vendor yang menawarkan sistem ini tanpa dipungut biaya. Alasan ini juga yang mendasari bahwa setiap pihak sama-sama diuntungkan. Hal ini didukung dengan komunikasi yang berjalan baik dengan vendor dan sudah melalui tahap MoU.

“Bank DKI datang dengan menawarkan sistem cashless. Setelah dipelajari, hal ini baik. Mereka (Bank DKI) juga follow up sehingga semua berjalan baik,” ucapnya ketika ditanya vendor apa menawarkan sistem ini.

Aryo yakin sistem ini berjalan baik karena teknologi yang begitu canggih saat ini. Tetapi dia tidak tahu apakah akan efektif. Karena itu dia menjadwalkan sosialisasi dari pihak Bank untuk memberitahu informasi dan tata cara kepada mahasiswa. Kantin akan terdapat dua kasir, di kantin atas dan kantin bawah untuk antisipasi tamu yang ingin berkunjung ke kantin. Dia juga berharap server tidak mengalami kendala, agar tidak membuat kasir menjadi ramai.

Sosialisasi kepada mahasiswa terkait sistem ini di rencanakan pada 1 November 2018 yang lalu. Namun, karena ada kendala, hal ini urung dilakukan. Pihak pengelola juga mempertimbangkan jadwal Mahasiswa Universitas Pertamina agar sosialisasi berjalan sesuai rencana. “Urusan teknis untuk sosialisasi sudah siap, Desember mungkin (waktu sosialisasinya),” responnya.

Sedangkan sosialisasi kepada penyewa kantin sudah dilakukan sebanyak dua kali. Aryo berkata penyewa atau pedagang setuju dengan wacana ini. Sosialisasi ini akan datang dan libatkan pihak Bank DKI secara langsung. (LW/RCH/VT)