Dahulu, perempuan selalu dipandang sebelah mata. Pendidikan hanya milik laki-laki. Perempuan hanya boleh di rumah. Bahkan ada sebutan khusus untuk para perempuan, yaitu dapur, sumur, dan kasur. Namun seiring berjalannya waktu, perempuan sejajar dengan laki-laki. Perempuan berhak mendapat pendidikan dan meraih apa yang dia inginkan tanpa stigma negatif yang melekat. Salah satu perempuan yang inspiratif di Universitas Pertamina adalah Farah Mulyasari.

20180924200307
Farah Mulyasari

Profil

Farah Mulyasari adalah seorang profesional yang bekerja dibidang akademisi. Saat ini, perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat ini menjabat sebagai Wakil Dekan untuk Fakultas Komunikasi dan Diplomasi (FKD) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Sebelumnya, wanita yang akrab disapa Teh Farah menjabat sebagai Ketua Program Studi (prodi) Ilmu Komunikasi selama dua tahun. Di semester ini, Farah mengajar empat mata kuliah, Dasar-Dasar Komunikasi Strategis (semester 3), Komunikasi Keenergian (semester 5), Pengembangan Karir (semester 5), dan Isu-Isu Kontemporer (semester 7). Untuk isu-isu kontemporer, beberapa mahasiswa Ilmu Komunikasi berhak mengambil mata kuliah ini di semester 5, karena itu dibuka kelas untuk mata kuliah ini di semester 5.

Rekam jejak

Pendidikan Farah bermula pada Agustus 1994 saat masuk Universitas Padjajaran. Dia mengambil program studi Teknik Geologi. Farah menyelesaikan studi Strata 1 nya pada Februari 1999 dengan predikat Cum Laude. Farah tidak langsung bekerja, tetapi melanjutkan studi S2 di Karlsruhe Institute of Technology, Jerman setahun kemudian dengan separuh biaya mendapat beasiswa. Farah mendapat gelar magisternya dengan menyelesaikan tesis ‘Pengurangan Resiko Letusan Gunung Api bagi Pemerintah dan Masyarakat’ karena ketertarikan beliau terhadap Geo Hazard (bahaya alam). Setelah lulus, Farah diperbantukan menjadi Asisten Professor pada universitas yang sama, untuk menyelesaikan project-project yang dicanangkan oleh Professor selama dua tahun, sebelum pulang ke kampung halaman pada 2004.

Tahun 2005 – 2010, Farah bekerja di Pusat Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung (ITB). Disamping itu, Farah juga bekerja pada Badan Geologi yang bekerja untuk pemerintah Jerman di Indonesia, menjabat sebagai Project Manager kegiatan pengurangan resiko bencana untuk pilot project di Indonesia. Jejak pendidikan Farah berlanjut pada januari 2010 saat MEXT (pemerintah Jepang) memberikan beasiswa penuh kepadanya untuk melanjutkan studi S3 nya di Kyoto University, Jepang dengan tambahan satu tahun untuk melakukan riset. Hal ini yang sangat disyukuri oleh Ibu 3 anak ini, karena dapat memetakan keadaan sebelum memutuskan pilihan. Setelah melakukan riset, akhirnya Farah memilih komunikasi resiko kebencanaan alam, agar mendapat kebidangan sosial. Komunikasi resiko dipilih karena Farah merasa komunikasi merupakan bottleneck untuk dekat dengan masyarakat dalam tujuan mensosialisasikan tentang mitigasi bencana alam. Farah menyelesaikan S3 nya pada tahun 2014, dan membawa dirinya bergelar Dr.Farah Mulyasari.

Universitas Pertamina sebagai pilihan

Farah memilih Universitas Pertamina (UP) karena dua faktor, yaitu keilmuan dan profesional. Farah merasa UP memiliki potensi besar, karena bergerak dibidang keenergiaan juga mencakup ranah sosial. Hal ini sesuai dengan passion beliau. Memilih UP juga merupakan tantangan yang diambil olehnya karena ingin keluar dari zona nyaman. “Hidup adalah suatu kemajuan. Oleh karena itu, kita harus terus maju dengan keluar dari zona nyaman kita,” tambahnya. Keputusan ini diambil setelah berdiskusi dengan partner hidup.

Farah juga mengimbangi kehidupan profesional dan pribadinya dengan baik. Dia menjalani peran double function, sebagai ibu/istri dan wanita karir. “Kuncinya adalah time management yang baik dan harus fokus menjalani kegiatan. Tidak lupa juga kerja sama dengan suami dan dukungan dari anak-anak,kata Farah menanggapi.

Pesan untuk para calon Ibu dan wanita karir

Berkarir dapat dilakukan di mana saja. Ada yang di luar dan ada pula yang bekerja di dalam rumah. Kuncinya adalah sama, yaitu manajemen waktu dan fokus, juga bekerja sama dengan pasangan hidup dalam menuju cita-cita yang ingin diraih,” – Farah M.

Pendorong dan motivasinya dalam berkarir adalah sering bertukar pikiran dengan orang terdekat. Hal ini dilakuan untuk mengimbangi penilaian terhadap keputusan apa yang telah kita ambil. “Selama kita berada di dalam kotak, kita tidak dapat melihat apa yang terjadi diluar kotak, karena itu kita butuh pandangan dari orang lain,” ungkap Farah.

Kunci untuk mendapat beasiswa

Farah memaparkan faktor umum untuk dapat meraih beasiswa. Pertama adalah niat. Kedua, minat/passion. Dua ini berkaitan. Kita harus fokus menentukan minat dan niat dalam menjalaninya. Faktor selanjutnya adalah meningkatkan kemampuan hardskill, bahasa, komunikasi, dan kemampuan menulis adalah kriteria yang terkadang diminta oleh pemberi beasiswa. Oleh karenanya, kita harus menguasai dan mengasah hardskill kita. Yang terakhir adalah berdoa. Setelah kita sudah mengusahakan dan melakukannya dengan tekad yang bulat, kita harus melengkapinya dengan berdoa.

Pesan untuk mahasiswa UP

Dalam menjalani rutinitas sebagai mahasiswa, Farah memiliki pesan kepada para mahasiswa. Saat ini adalah masa-masa perjuangan kita dalam mencari jati diri, minat, dan mengasah kemampuan. Oleh karena itu, disarankan menggunakan waktu sebaik-baiknya agar setelah lulus dapat menghadapi situasi dengan baik. Kita juga perlu menggali ilmu, bertukar pikiran dan bersosialisasi dengan baik.

“Jangan pernah mudah putus asa, semua orang pasti mengalami kegagalan. Tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan, karena itu kita harus lewati itu dengan tega. Kita harus bangkit dari keterpurukan dan berjalan lagi. Tidak lupa berdoa dan berusaha kedepan lebih baik lagi,” tutup Farah. (LW)