PERISAI UP, Jakarta – Setelah pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (27/04), Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Un, pada hari Minggu (10/6) yang lalu telah melakukan pertemuan dengan dua pemimpin negara yakni Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong dan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump pada 12 Juni yang lalu.

U.S. President Donald Trump shakes hands with North Korean leader Kim Jong Un at the Capella Hotel on Sentosa island in Singapore

Selanjutnya, pertemuan bersejarah antara pemimpin Korea Utara dan Presiden Amerika Serikat dilakukan di area Sentosa. Pertemuan ini mengingatkan masyarakat dunia setelah kedua pihak sempat bersitegang mengenai pengancaman perang nuklir yang terjadi beberapa bulan yang lalu.

Tak hanya itu, delegasi dari kedua negara pun mengikuti rapat bilateral pada sekitar pukul 10 pagi waktu setempat. Pertemuan ini merupakan awal baru bagi kedua pihak untuk bekerja bersama mengimplementasikan kesepakatan yang telah ditandatangani bersama di Singapura, salah satunya adalah denuklirisasi di Semenanjung Korea (12/06). Presiden Trump pun mengaharapkan kerjasama dan kekeluargaan yang erat antara pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Korea Utara.

Melihat sejarah kedua negara tersebut, pada tahun 2005 terjadi komitmen antara Korea Utara dengan Mantan Presiden AS, Bush, Korea Utara tidak akan mengaktifkan senjata nuklirnya beserta program nuklir miliknya dan bekerjasama dengan International Atomic Energy Agency.

“setelah kami berunding, tidak sepatutnya kita melakukan perang. Pemberhentian perang juga akan menghemat pengeluaran negara,” ungkap Trump saat konferensi pers di akhir pertemuan.

Meskipun demikian, Presiden Trump mengungkapkan bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk memindahkan 28.500 militer AS yang ada di Korea Selatan. Trump pun menambahkan, sanksi dari reklusif rezim akan tetap ada hingga berakhirnya denuklirisasi oleh Korea Utara dan akan mengembalikan tawanan perang Korea Utara di AS akibat Perang Korea. Tak hanya itu, sebagai timbal balik dari denuklirisasi Korea Utara, kedua pihak pun sepakat agar Washington menyediakan jaminan keamanan.

Pertemuan antara Amerika Serikat dan Korea Utara disambut baik oleh banyak negara termasuk Indonesia. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, melansir dari tribunnews, beliau berharap hasil KTT ini dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian, baik di kawasan Semenanjung Korea, di kawasan Indonesia maupun perdamaian dunia. (GGYB/AHP)

 

sumber: tribunnews | todayonline.com | pic source: reuters