Rentetan teror bom yang terjadi di Surabaya merupakan aksi yang dilakukan oleh suatu kelompok teroris, polisi menuding bahwa kelompok tersebut ialah Jamaah Anshar Daulah (Tirto.id). Tahukah kalian bahwa terdapat perbedaan antara aksi teror yang dilakukan akhir-akhir ini dengan aksi teror yang terjadi pada tahun 2000-an seperti, Bom Bali, Kedubes Australia, Marriot, dll?

Melansir dari akun Twitter @MIBAgent_ dan Tirto.id, dahulu aksi teror yang terjadi di Indonesia merupakan ulah anggota kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Sekarang, para teroris merupakan anggota dari Jamaah Anshar Daulah (JAD). Dua kelompok tersebut memiliki perbedaan ideologi yang berbeda. Jika, JI merupakan jaringan dari Al-Qaeda, sedangkan JAD terafiliasi dengan ISIS. Kedua kelompok ini memiliki perbedaan yang mendasar dari tujuan maupun cara mewujudkan tujuan tersebut. JI yang merupakan kepanjangan tangan dari Al-Qaeda memiliki tujuan untuk menghancurkan dominasi Amerika Serikat yang menurut mereka sedang menjajah negara-negara muslim. Sehingga serangan yang mereka lakukan lebih ditujukan kepada representasi dari Amerika dan sekutunya. Kelompok militan JI memiliki pengetahuan dan pengalaman berperang yang lebih mumpuni, terutama terkait perakitan/pembuatan bom yang lebih canggih dan lebih berbahaya. Mereka mendapat pengalaman dari berbagai medan, seperti Afghanistan, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Peneliti terorisme Al Chaidar menjelaskan bahwa serangan Bom Bali I dan II yang dilakukan JI merupakan bom dengan daya ledak lebih tinggi daripada teror bom di Surabaya yang menggunakan bom pipa. Misalnya, Bom Bali I, dengan berat 6 ton berhasil menewaskan 202 orang (Tirto.id).

JAD yang merupakan kepanjangan tangan dari ISIS memiliki tujuan mendirikan daulah (negara) dan mereka percaya bahwa satu-satunya daulah yang sah di mata Allah adalah daulah mereka. Oleh karena itu, siapapun yang menolak sumpah setia kepada khalifahnya, dihukum kafir dan sah untuk dibunuh. Sehingga, NKRI pun dianggap penyimpangan dan harus dilenyapkan. Pola serangan yang dilakukan JAD pun cenderung nekat, berskala kecil, dan menyasar publikasi sebagai efeknya. Peneliti terorisme dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menjelaskan jika JAD selalu melakukan evaluasi dari setiap serangannya. Salah satunya adalah berperilaku yang sesuai dengan lingkungan sekitar. Secara penampilan dan pola interaksi sosial kelompok JAD susah dibedakan dengan masyarakat pada umumnya. Sebisa mungkin mereka berperilaku berkebalikan dengan kelompok radikal. (OL/AHP)

Sumber:

chipstory

tirto.id