Capture
Gambar 1 Tumpahan minyak diduga menewaskan lumba-lumba irawadi atau pesut.
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43640595

Pada hari Minggu (8/4), pukul 03.00 WITA dini hari, Pertamina mengeluarkan statement Rembesan minyak mentah yang terjadi di Desa Nenang, Penajam sudah teratasi. Meskipun, minyak yang tumpah di laut belum bisa teratasi sepenuhnya. Pertamina pun melakukan langkah – langkah untuk pembersihan tumpahan minyak.

Langkah pertama untuk mengatasi masalah ini adalah sejak ditemukannya rembesan pada pipa, pertamina dan masyarakat setempat melakukan penyisiran di sepanjang pipa. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut dengan side sonar scan yg dilakukan Pertamina, ditemukan bahwa pipa crude oil (terbuat dari baja, diameter 20 inch, ketebalan 12 mm, kedalaman 22-26 m) dari arah Terminal Lawe-Lawe menuju kilang Balikpapan bergeser sejauh 100 m dan putus sehingga mengakibatkan timbulnya minyak di perairan.

Namun, hal ini tidak disebabkan kegiatan produksi dan perusahaan memastikan telah melakukan inspeksi rutin terhadap kondisi pipa. Penyebab putusnya pipa (sumber utama terjadinya pencemaran minyak) masih diselidiki lebih dalam. Butuh external force yang sangat besar untuk bisa menggeser pipa sejauh itu. Dugaan sementara adalah adanya jangkar kapal asing yang menyangkut di pipa tersebut.

Langkah kedua adalah dengan dibentuknya tim penanggulangan gabungan dari aparat keamanan, Pertamina, pemda, instansi lingkungan hidup, Badan Penanggulangan Bencana Daerah bersama KLHK pun terus berupaya menangani dengan membersihkan ceceran minyak di tepi pantai dan perkampungan masyarakat. Antisipasi pertama dengan menggunakan Oil Boom di Sungai Nenang untuk mencegah menyebarnya rembesan minyak dan penyemprotan dispersan di wilayah tersebut.

Langkah ketiga adalah pendirian posko kesehatan sejak Kamis (5/4) guna mengantisipasi keluhan masyarakat sekitar mengenai kemungkinan adanya penyakit yang timbul akibat bau dari minyak.

Saat ini operasional penyaluran minyak mentah ke Kilang Balikpapan telah kembali normal. Region Manager Communication & CSR Kalimantan Yudy Nugraha menjelaskan, tanah yang terkena rembesan dibawa ke Terminal Lawe-Lawe agar lingkungan aman.

Adapun akibat dari Oil Spill ialah mengotori area yang telah diperkirakan seluas 7.000 hektar, dengan panjang pantai terdampak di sisi Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Pasir Utara mencapai sekitar 60 kilometer. Kejadian ini juga menewaskan lima orang, dan merusak mangrove serta biota laut. Masyarakat pun mengeluhkan mual dan pusing karena bau minyak menyengat. Demikian antara lain isi laporan tim penanganan kejadian tumpahan minyak di Perairan Teluk Balikpapan, dan Penajam Pasir Utara, per 4 April 2018.

Dalam laporan tim penanganan itu menyebutkan, dari fakta lapangan ditemukan ekosistem terdampak berupa mangrove sekitar 34 hektar di Kelurahan Kariangau, 6.000 mangrove di Kampung Atas Air Margasari, 2.000 bibit mangrove warga Kampung Atas Air Margasari dan kepiting mati di Pantai Banua Patra. Tak hanya dampak sosial dan lingkungan, kilang minyak tersebut pun diprediksi oleh Archandra Tahar, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahwa kilang tersebut diperkirakan berpotensi kehilangan 200 ribu barel minyak. Meskipun begitu, perusahaan belum menghitung jumlah pasti kerugian yang dialaminya. Kenyataan lainnya, pemerintah dan Greenpeace pun ikut menuntut Pertamina untuk melakukan tanggung jawab, walaupun statement dari Pertamina telah dikeluarkan. (RR/ AHP)