Jakarta, PERISAI UP —- Ada hal yang berbeda pada bulan Maret 2018 yang lalu dibandingkan dengan bulan – bulan lainnya. Di beberapa tempat di Indonesia pada hari Sabtu, 24 Maret 2018. Secara serentak tempat-tempat ikonik di Indonesia seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Gedung Balai Kota DKI, Patung Jenderal Sudirman, Bunderan Hotel Indonesia, Patung Pemuda, Monas, Patung Arjuna Wiwaha, Patung Pahlawan, dan Gelora Bung Karno. Saya sendiri ikut merasakan dan menikmati hal ini di Gelora Bung Karno. Hal ini memang disengajakan oleh pihak terkait dan mengikuti arahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mematikan lampu pada jam 20.30 sampai dengan 21.30 guna memperingati gerakan Earth Hour 2018.

Earth Hour adalah sebuah gerakan yang digagas oleh WWF (World Wide Fund) untuk mengajak orang-orang di seluruh dunia untuk terus menjadi bagian dari momentum global untuk membantu melawan perubahan iklim.

Pada tahun 2015, tercatat sebagai tahun terpanas di dunia dengan rata-rata suhu sebesar 1,53 derajat fahrenheit jika digabungkan dengan tanah dan air di seluruh Planet Bumi. Tahun 2015 juga terjadi peristiwa besar dimana beberapa negara sepakat untuk bekerja melawan perubahan iklim pada pertemuan bersejarah di Paris (COP21). Bersama dalam melakukan aksi melawan perubahan iklim, Earth Hour adalah saatnya kita untuk menunjukkan perubahan nyata melalui gerakan untuk iklim dan membangun fondasi untuk masa depan yang lebih baik bagi planet kita dan generasi mendatang.

Pada tahun 2018, Earth Hour mengusung tema “Shine A Light on Climate Action”. Terjadi penurunan angka efek rumah kaca dan penghematan listrik yang sangat besar. Seperti yang dikutip dari pidato Bapak Anies Baswedan saat melakukan kampanye pemadaman listrik di Balai Kota, Beliau menuturkan, dalam waktu satu jam melakukan pemadaman listrik di berbagai titik di Jakarta, berhasil menghemat konsumsi listrik DKI hingga 169,99 mega watt (MW). Setara dengan penghematan secara materiil hingga Rp 249 juta.  (RR)