Jakarta, Perisai UP – Pada hari Rabu (6/12) siang hari waktu AS, Presiden Amerika Serikat yakni Donald Trump didampingi Wakil Presidennya menyampaikan pidato yang berisi tentang pengakuan kedaulatan dan dukungan terhadap Yerusalem sebagai ibukota dari Israel. Sebagai bukti dukungannya, Trump pun memberikan instruksi untuk memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat terhadap Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Disampaikan lebih lanjut lagi bahwa hal ini sebagai penerapan Undang-Undang Kedutaan Yerusalem yang telah disepakati oleh Kongres AS pada tahun 1995 dan juga sebagai pendekatan baru dalam menyelesaikan konflik antara Israel-Palestina.

Selang beberapa saat setelah pidatonya disampaikan, mulai muncul kritikan dan juga sikap penolakan dari sebagian masyarakat dunia terhadap sikap AS tersebut. Uni Eropa, Rusia, Negara Liga Arab, Korea Utara, Malaysia, Indonesia serta Turki kemudian mengeluarkan sikap penolakan dan respon keberatan atas keputusan Trump. Bahkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya mengatakan bahwa sikap AS bukan merupakan upaya perdamaian. “Pendekatan macam apa ini? Pemimpin politik tidak menghasut, mereka mengupayakan perdamaian!” seru Erdogan. Presiden Erdogan juga langsung menindaklanjutinya dengan akan mengagendakan pembahasan ini dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam dengan Turki sebagai tuan rumahnya.

Sejalan dengan sikap Turki, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini menegaskan tidak akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel sampai konflik Israel-Palestina diselesaikan. Di tempat terpisah, ketika PM Israel melakukan kunjungan ke negara negara Uni Eropa untuk memohon kepada mereka untuk mengikuti keputusan AS, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru mengkritisi kebijakan tersebut di depan konferensi pers bersama Benyamin Netanyahu.

“Prancis, tetap yakin bahwa satu-satunya solusi yang sesuai dengan hukum internasional adalah memungkinkan pembentukan dua negara yang hidup berdampingan secara damai — dan ini hanya dapat terjadi melalui negosiasi,” kata Macron pada hari Minggu waktu setempat, seperti dikutip dari Al Jazeera pada Senin (11/12/2017).

“Saya meminta Perdana Menteri (Israel) untuk membuat keputusan berani mengenai Palestina dan mengatasi kebuntuan yang terjadi saat ini,” imbuhnya.

Ketika Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pertemuan dengan Presiden Erdogan di Ankara, Senin (11/12). Putin memberikan reaksi penolakan atas keputusan AS. “Langkah pemerintahan Trump tidak membantu penyelesaian konflik Timur Tengah dan, justru sebaliknya, mendestabilkan situasi yang sudah sulit di wilayah ini,” ujar Putin.

Tak ketinggalan, Presiden Indonesia Joko Widodo juga memberikan reaksi penolakan atas kebijakan AS. Presiden Joko Widodo telah menyampaikan suara penolakan di KTT Organisasi Kerja Sama Islam di Turki untuk membantu membulatkan suara mengecam keputusan Trump pada 13 Desember 2017 yang lalu.

Namun sepertinya beberapa negara terlihat belum memutuskan suara terkait hal ini. Seperti Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab yang kelihatannya sedikit lunak dengan Amerika Serikat dikarenakan tentang kerjasama mereka dengan Israel dan Amerika Serikat untuk memerangi masalah Iran yang sedang mereka hadapi. Tapi di pihak lain mereka masih memikirkan nasib Palestina sebagai negara sahabat sehingga mereka tidak menjalin hubungan resmi dengan Israel sampai konflik Israel-Palestina selesai.

Tokoh agama juga menanggapi hal ini, seperti Paus Fransiskus mengatakan: “Saya tidak dapat membungkam keprihatinan saya yang mendalam atas situasi yang muncul dalam beberapa hari ini. Pada saat yang sama, saya sangat mengharapkan semua orang untuk menghormati status quo kota, sesuai dengan resolusi PBB yang relevan.”

ya

Keputusan Trump dianggap oleh Presiden Palestina telah membuat mereka menghilangkan peran sebagai mediator perdamaian selama ini. Dan hal tersebut dianggap justru akan memperparah keadaan yang sudah keruh. (RR)