PERISAI UP, Jakarta (1/9/17)– Pada Jumat malam (25/8) lalu, Universitas Pertamina dihebohkan oleh sejumlah mahasiswa yang mengirimkan DUDU – suatu rubrik yang berfungsi untuk menyampaikan pesan – melalui official account Media Kampus PERISAI UP. DUDU tersebut berisi aspirasi sebagian mahasiswa yang menginginkan adanya perbaikan dan perubahan kampus ke arah yang lebih baik. Beberapa aspirasi yang disampaikan, antara lain beberapa fasilitas yang masih bermasalah sehingga mengganggu kegiatan perkuliahan, identitas kampus, sistem akademik yang perlu diperbaiki, serta transparansi untuk mendapatkan kejelasan informasi. Hal ini sukses menarik perhatian sebagian besar mahasiswa, dosen, hingga pimpinan Universitas Pertamina. Terbukti dengan tembusnya angka lebih dari dua ratus likes dan beberapa komentar mahasiswa lainnya. Hal ini langsung ditanggapi oleh pimpinan dengan menggelar forum diskusi yang mengundang seluruh ketua UKM, komting, dan ketua himpunan dari masing – masing program studi.

Forum diskusi digelar pada Selasa, 29 Agustus 2017 yang bertujuan untuk membahas permasalahan, yang nantinya diharapkan seluruh elemen civitas akademik Universitas Pertamina dapat menjadi bagian dari solusi atas permasalahan tersebut. Forum tersebut dibuka oleh Wakil Rektor 1 Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ichsan Setya Putra yang menyampaikan klarifikasi atas aspirasi yang disampaikan mahasiswa melalui DUDU. Salah satu hal yang disampaikan ialah mengenai jadwal akademik yang tidak sesuai dengan pengisian KRS yang telah dilakukan mahasiswa. Beliau mengatakan bahwa pihak kampus mencoba menyesuaikan kelas dari masing – masing prodi agar tidak bentrok satu sama lain. Setelah itu, dilanjutkan dengan membahas keluhan dan aspirasi mahasiswa, di antaranya mengenai sistem akademik yang belum berjalan maksimal. Hal ini disampaikan oleh mahasiswa Teknik Geologi, Khatami Adji, yang mengatakan bahwa tidak ada informasi yang jelas mengenai pengisian KRS, salah satu contohnya adalah mahasiswa mendapat informasi secara mendadak mengenai mata kuliah yang diulang. Hal lain juga dikatakan oleh Luthfi, mahasiswa Teknik Geofisika. Ia menyarankan bahwa lebih baik pengumuman deadline SPP didahulukan sebelum pengumuman penangguhan. Hal lain yang juga dibahas adalah mengenai cuti kuliah dan kejelasan drop out.

Tidak hanya itu, persoalan lain yang dibahas oleh mahasiswa adalah terkait fasilitas, salah satunya persoalan lift hanya satu yang berfungsi. Hal ini kemudian ditanggapi oleh Erwin Setiawan selaku Manajer Aset. Beliau menjelaskan bahwa pihak kampus sudah meminta Pertamina Foundation untuk mengganti lift yang rusak, dan pada September ini akan mulai melakukan pembangunan.

Setelah mengikuti forum diskusi tersebut, mahasiswa menyatakan bahwa pihak kampus sudah cukup menjawab beberapa keluhan mahasiswa. Namun ada beberapa hal yang belum sempat dibahas dikarenakan keterbatasan waktu. Hal ini disampaikan oleh mahasiswa Teknik Geofisika, Luthfi yang mengatakan bahwa, “beberapa sudah terjawab sih, tetapi masih ada poin yang belum sempat dibahas karena terkendala waktu, seperti himpunan yang katanya belum siap sehingga belum ada SK sampai saat ini”. Hal yang sama juga diungkapkan oleh mahasiswa Manajemen, Bariq dan Bintang. Mereka mengatakan bahwa “waktunya terlalu singkat, jadi aspirasinya belum semuanya tersampaikan, seperti halnya dari UKM belum ada yang menyampaikan”. Mereka juga menyarankan untuk kedepannya, apabila ada forum seperti ini lagi, perlu diberikan porsi untuk setiap perwakilan, mulai dari pimpinan, dosen, ketua UKM, komting, dan ketua himpunan agar semuanya dapat menyampaikan aspirasinya. “Dengan adanya forum diskusi ini, diharapkan dapat menjalin hubungan baik antara pimpinan, dosen dan mahasiswa. Oleh karena itu, forum ini mungkin dapat dilaksanakan secara rutin.” tutupnya.

 

© PERISAI 2017